skip to main |
skip to sidebar
Flare Vs Skinny

ERA skinny jeans tampaknya akan segera tergeser karena di akhir tahun ini celana berpipa lebar kembali beraksi, baik dalam kemasan yang lebih kasual maupun potongan bergaya maskulin. Kembalinya celana berpipa lebar alias flare tentu saja merupakan kabar gembira bagi sebagian wanita. Sebabnya, skinny yang saat ini tengah menjadi tren, sering kali dianggap tidak "ramah". Terutama bagi mereka yang memiliki ukuran tubuh plus. Celana berpotongan sempit di bawah tersebut hanya akan membuat tubuh semakin terlihat tidak proporsional.
Dalam penerapannya, skinny memang digunakan setiap wanita. Namun tidak bisa dimungkiri, celana tersebut hanya terlihat bagus saat digunakan mereka yang memiliki kaki panjang dan langsing. Skinny yang membalut dengan ketat tentu semakin mempertegas hal tersebut.
Namun, bukan berarti celana ini menjadi benda terlarang bagi mereka yang bertubuh besar. Hanya, dibutuhkan teknik tertentu untuk menyiasatinya agar celana tersebut tidak membuat tubuh terkesan semakin lebar.
Salah satunya dengan mengenakan tunik yang mampu memperlembut efek tajam sang skinny. Alternatif lain, gunakan skinny bersama trench coat dan platform shoes agar penampilan terlihat seimbang.
Nah, berbahagialah mereka yang bertubuh mungil karena skinny justru mampu memberikan kesan unik. Padukan bersama tank top, bustier, ataupun t-shirt pas badan untuk penampilan yang kasual sekaligus seksi. Sementara, mereka yang ingin tampil formal dengan skinny bisa memadukannya bersama jaket pendek, bolero, atau bahkan mantel sepanjang paha.
Meskipun gempuran skinny belum akan berakhir, para desainer memberikan alternatif baru untuk bergaya pada akhir tahun. Ya, ucapkan selamat datang kepada celana berpipa lebar, palazzo, dan bootcut yang kini menjadi alternatif baru bergaya selain skinny.
"Pada akhir tahun, tren akan kembali pada busana bervolume, baik pada kemeja, rok, celana, maupun gaun," tutur Marc Jacobs, usai pertunjukan koleksi terbarunya di Milan. Hal yang serupa dihadirkan rumah mode Gianfranco Ferre dengan rancangan yang didominasi celana kain berpipa lebar yang dipadukan bersama blazer maupun kemeja feminin.
Di sisi yang lebih kasual, Kate Moss menyajikan denim berpotongan bootcut untuk koleksi Top- Shopnya. Begitu juga dengan peritel besar lain, seperti H&M, Zara, Bebe, juga Mango. Di samping skinny denim, mereka juga menyediakan flare denim maupun celana kain dengan aksen tailored nan maskulin.
Mango misalnya. Musim gugur ini, Mango tidak mengandalkan suasana gelap yang biasanya membayangi, koleksi yang hadir justru penuh warna dengan corak manis yang menggoda.
Menurut Public Relation Mango Indonesia Febri, yang menjadi kunci tren busana Mango musim ini adalah adaptasi gaya busana dari masa lalu, mulai tahun 1920 hingga 1980-an. "Karena itu, koleksinya cenderung klasik, seperti celana flare maupun terusan berdetail minimalis," sebutnya.
Para desainer dan label rupanya mengambil inspirasi dari dua ikon mode legendaris, KatherineHepburn dan Marlene Dietrich, untuk koleksi celana palazzo. Lihat saja koleksi milik Etienne Aigner, celana palazzo dalam berbagai warna yang dijahit dengan detail sempurna terlihat anggun saat dipadukan bersama sweter, blus, maupun blazer. okezone
Tidak ada komentar:
Posting Komentar